6 Taktik Psikologi Customer untuk Memaksimalkan Social Engagement Bisnis Anda

6 Taktik Psikologi Customer untuk Memaksimalkan Social Engagement Bisnis Anda

Memaksimalkan social engagement dengan psikologi merupakan pendekatan yang menarik untuk disimak terutama untuk Anda yang sekarang berbisnis di dunia digital.

Terutama jika Anda menggunakan social media sebagai saluran untuk kegiatan bisnis Anda. mungkin pada awalnya Anda akan mengalami kebingungan.

Tapi bagaimana jika ada formula ajaib untuk social media marketing?

Formula ini akan membuat audiens langsung ikut terlibat dengan konten Anda. Hal lain yang Anda tahu selanjutnya adalah mereka akan memfollow, share, dan meninggalkan comment.

Kabar baiknya adalah, memang formula itu ada!

Artikel kali ini akan membahas mengenai bagaimana cara memaksimalkan social engagement dengan menggunakan ilmiah yang didukung dengan prinsip-prinsip psikologi.

Mari kita bahas lebih mendalam!

Memaksimalkan Social Engagement dengan Psikologi

Neuromarketing

neuromarketing

Salah satu cara memaksimalkan social engagement dengan psikologi juga melibatkan neuromarketing. Apa itu neuromarketing?

Neuromarketing adalah proses meneliti pola otak konsumen untuk mengungkapkan tanggapan mereka mengenai iklan dan produk tertentu sebelum mengembangkan campaign untuk iklan baru serta teknik dalam branding.

Ilmu ini sangat menarik karena langsung dapat bekerja!

Orang-orang bertindak dengan cara yang diprediksi, dan pesan pemasaran tertentu bisa meningkatkan kemungkinan orang yang bertindak dengan cara-cara tersebut.

Ini membuat pekerjaan sebagai marketer menjadi lebih menarik!

Dengan memahami beberapa kunci prsoses kognitif, Anda dapat mendorong social engagement dan meningkatkan efektivitas social media marketing campaign secara keseluruhan.

Berikut ini ada beberapa strategi khusus yang dapat Anda segera terapkan.

  1. Halo Effect

The-Halo-Effect

Istilah halo effect ini berasal dari hampir 100 tahun yang lalu pada tahun 1920, ketika peneliti Edward Thorndike melakukan penelitian,

2 orang prajurit dievalusi oleh komandan, yang dinilai adalah dari segi kualitas fisik mereka seperti kerapian, energi, dan fisik) dan kualitas mental, emosional, dan sosial mereka (seperti kecerdasan, kepemimpinan dan tanggung jawab).

Thorndike menemukan bahwa, jika satu dari prajurit dinilai memiliki kualitas yang tinggi, prajurit lainnya juga akan dinilai tinggi juga. Begitu pula sebaliknya.

Bagaimana menghubungkannya dengan social media marketing?

Jawabannya sangat simpel.

Jika Anda membangun brand Anda dengan memasukkan satu sifat positif, konsumen akan memiliki kecenderungan percaya bahwa kualitas lain brand Anda juga positif.

Dengan kata lain, secara tidak sadar, mereka akan membentuk bias yang positif.

Misalnya saja Anda ingin membangun reputasi untuk postingan agar menjadi top, berkualitas tinggi, article yang merangsang orang untuk berpikir di sebuah social media.

Pada akhirnya, audiens Anda akan melihat dan memberikan pandangan bahwa brand Anda lebih cerdas dan kompeten.

Ketika hal ini sudah terbentuk, audiens Anda juga akan berpikir bahwa produk atau service Anda juga berkualitas tinggi.

Catatan : jika Anda bisa unggul di suatu area, maka akan menjadi hal yang mudah dalam meningkatkan persepsi public secara keseluruhan dan berkembang di area lain.

Konsumen lebih mempercayai brand Anda dan akan cenderung untuk terlibat dengan Anda di social media.

  1. Memposting Apa yang Secara Umum dishare

shareLogo

Apa goal utama dari memposting sebuah content di social media?

Agar orang mau menshare content tersebut ke teman-teman dan followersnya.

Tetapi memposting content secara membabi buta tanpa arahan dan alasan ibaratkan seperti bermain dart dengan mata tertutup. Anda hanya berharap dan berdoa agar lemparan Anda mengenai target.

Untungnya, ada jalan pintas untuk Anda agar dapat memaksimalkan share!

Yang perlu Anda lakukan adalah memposting content yang paling sering dishare oleh orang lain.

Menurut satu studi dari sebuah market research company terkenal Ipsos,

Tindakan dari masyarakat global yang telah melakukan share beberapa jenis content didorong karena mereka menganggap :

  • Content tersebut menarik 61%
  • Content tersebut penting 43%
  • Content tersebut lucu 43%

Memahami kebiasaan orang-orang dalam sharing akan meningkatkan secara drastis peluang Anda untuk mengenai target dan meningkatkan social engagement Anda.

Hal ini bukan berarti bahwa setiap postingan content Anda yang dianggap menarik, penting atau lucu akan sukses, tetapi ini akan memberikan gambaran kepada Anda dalam membangun kerangka secara umum.

Berikut ini adalah grafik yang lebih rinci tentang kebiasaan pengguna social media dalam melakukan sharing.

image00-7

sumber gambar : https://www.quicksprout.com

Jika Anda bertanya-tanya jenis content apa yang paling mungkin untuk beresonansi dengan audiens Anda, grafik ini pasti dapat membantu memandu bisnis Anda.

  1. Berikan Sesuatu yang Free ke Audiens Anda

free

Ini adalah salah satu cara untuk memaksimalkan social engagement dan taktik psikologis yang dapat Anda gunakan untuk kepentingan Anda.

Berikan sesuatu yang akan dianggap oleh audiens Anda sebagai suatu hal yang bernilai, maka mereka akan merasa berhutang budi kepada Anda.

Fenomena ini bergantung pada konsep hubungan timbal balik, yang mengatakan bahwa pada dasarnya manusia akan merasa berkewajiban untuk membayar seseorang ketika seseorang melakukan apa yang mereka minta, membantu mereka, atau memberikan mereka sesuatu.

Dan hal ini tidaklah harus sesuatu yang besar.

Berikut ini ada beberapa contohnya :

contoh free

contoh free 1Teknik sederhana namun efektif ini bisa membuat pikiran bawah sadar orang ingin membalas budi, yang bentuknya bisa ke lebih banyak follower, share, dan publisitas yang positif.

  1. Menggunakan Pembuktian Sosial untuk Menciptakan Pengaruh

Tekanan kelompok tidak akan menghilang setelah sekolah menengah atas.

Bahkan ketika sudah mencapai usia dewasa pun, kita juga rentan mengalami tekanan kelompok hingga batas waktu tertentu.

Anda dapat menggunakan tekanan ini untuk keuntungan Anda dari sudut pandang psikologis dengan menciptakan bukti sosial.

Mungkin diantara Anda tidak begitu familiar dengan pengertian dari pembuktian sosial.

Pembuktian sosial adalah sebuah konsep dimana orang akan menyesuaikan diri dengan tindakan orang lain dengan asumsi bahwa tindakan-tindakan tersebut mencerminkan perilaku yang benar.

Dasar pemikiran ini cukup simpel. Anda cukup menemukan cara untuk membuktikan kepada pengikut potensial atau customer bahwa brand bisnis Anda mengagumkan.

Setelah mereka mengagumi brand Anda, maka tindakan selanjutnya adalah tinggal menunggu mereka untuk menggali lebih dalam tentang bisnis Anda, mereka akan merasa bahwa mereka harus melakukannya!

Untungnya, social media adalah medium yang ideal untuk menciptakan pembuktian sosial.

Berikut ini ada beberapa cara tertentu yang dapat Anda lakukan untuk memaksimalkan social engagement :

  • Cari seseorang yang ahli dalam industri tertentu terutama yang berhubungan bisnis Anda untuk diajak bekerja sama. Bentuk kerjasamanya bisa meminta mereka untuk me-link salah satu postingan blog Anda di profil mereka.
  • Memposting gambar orang terkenal atau selebriti yang menggunakan produk Anda.
  • Mendorong customer untuk menshare foto produk Anda.

Berikut ini ada contoh yang bagus ketika selebriti Snapchat, Shaun McBride (alias Shonduras) membiarkan Taco Bell mengambil alih akun Snapchatnya untuk mempromosikan peluncuran produk mereka Cap’n Crunch Berry Delights.

image04-5Ini mungkin hanya beberapa ide, tapi kemungkinannya hampir tidak terbatas.

Hanya dengan mencari cara untuk membuat orang menganggukkan kepala dan setuju tentang brand Anda, meningkatkan social engagement menjadi hal yang mudah! Bukan hanya itu, lead serta konversi juga akan terus berkembang.

  1. Menggabungkan Nostalgia

produk jadul

Hal yang berbau nostalgia (entah itu makanan atau permainan) akan membangkitkan kenangan dan kebanyakan orang akan mengingat masa lalu mereka terutama pada masa kecil mereka.

Lalu apa artinya hal ini dari sudut pandang social media?

Ini berarti bahwa menggabungkan nostalgia ke dalam campaign secara signifikan dapat memaksimalkan social engagement.

Robert M. Brecht, Ph.D. menulis sebuah artikel yang menjelaskan efektivitas nostalgia dalam marketing.

Menurut Brecht,

“Riset pemasaran jelas menunjukkan resonansi atau getaran yang positif antara iklan yang mengandung unsur nostalgia dengan produk yang diiklankan. Cara ini juga menunjukkan pengaruh yang lebih persiasif pada customer.”

Brecht juga membuat referensi untuk studi tertentu dan mengatakan bahwa :

“Hal ini mengindikasikan bahwa ketika konsumen sedang mengalami nostalgia dalam konteks mengkonsumsi suatu produk, kemungkinan mereka untuk melakukan pembelian produk yang diiklankan akan jauh lebih tinggi.”

Jika Anda bisa menggabungkan nostalgia ke dalam social media marketing Anda, Anda dapat memicu respon psikologis yang kuat, dan harus diterjemahkan ke dalam tingkat engagement yang lebih tinggi.

Misalnya Anda bisa menggunakan hastag seperti #throwbackthursday di social media seperti facebook atau twitter dan memposting sesuatu yang retro.

Atau Anda bisa mengedit gambar produk bisnis Anda, memberikan kesan nostalgia seperti 20-30 tahun yang lalu dan menguploadnya di Instagram.

Ada banyak jalan berbeda yang dapat Anda ambil dengan pendekatan ini.

  1. Menciptakan Scarcity

600-The-Power-of-Scarcity

Salah satu jenis ketakutan yang paling membuat orang merasa cemas adalah ketakutan akan kehilangan sesuatu.

Secara alami, kita ingin ikut terlibat ke dalam suatu hal dan berpikir tentang kehilangan sesuatu benar-benar membuat kita merasa ketakutan.

Inilah mengapa prinsip scarcity bisa menjadi sangat efektif untuk diterapkan.

Setelah Anda membaca bagian ini, pertanyaan Anda mengenai kenapa begitu banyak perusahaan menggunakan istilah seperti “Selama persediaan masih ada!” atau “Penawaran dalam waktu terbatas!” pasti terjawab, kan?

Berikut ini ada contoh yang membuktikan bahwa scarcity memiliki kekuatan yang besar. Sebuah studi dari peneliti Worchel, Lee dan Adewole meminta partisipan untuk menilai 2 kaleng biskuit. Pada awalnya kedua kaleng berisi 10 biskuit yang sama.

Kemudian dari saah satu kaleng, 8 biskuit diambil (yang otomatis membuat biskuit itu menjadi lebih langka).

Sekarang partisipan harus memilih antara kaleng yang berisi 10 biskuit atau kaleng yang hanya berisi 2 biskuit.

Ternyata kalenng yang berisi 2 biskuit lebih banyak dipilih dibandingkan dengan kaleng yang berisi 10 biskuit.

Artinya, scarcity sangat menjual!

image03-5

sumber gambar : SumoMe

Jika Anda ingin memaksimalkan social engagement, ciptakan scarcity!

Buat dengan sangat jelas bahwa jika pengguna social media tidak mengambil action dengan segera, maka mereka akan kehilangan kesempatan itu selamanya.

Misalnya saja seperti ini, Anda bisa membuat deal, di mana orang-orang yang memberikan “Like” Facebook page Anda akan diikutsertakan ke dalam kontes untuk menerima hadiah.

Tetapi, mereka memiliki waktu yang terbatas untuk melakukannya.

Taktik ini bisa memicu ketakutan orang dan kemudian mengubah respon ketakutan tersebut menjadi sebuah tindakan.

Kesimpulannya…

Anda sudah berada di ujung artikel ini, dan yang bisa ditarik kesimpulannya dari artikel ini adalah psikologi merupakan teman baik untuk social media marketer.

Masih ada berbagai macam alasan secara psikologis mengapa orang membeli produk Anda dan pastinya alasan-alasan ini masuk akal.

Hal ini penting karena mampu untuk membantu Anda dalam memaksimalkan social media engagement dan juga memastikan bahwa content yang Anda posting tidak jatuh ke kategori audiens yang tidak sesuai.

Dengan memberikan sedikit motivasi dan dorongan, Anda dapat membangun engagement dengan audiens di social media ke tingkat yang lebih tinggi lagi.

Benefit jangka panjangnya?

Anda akan memperoleh lebih banyak follower, comment, share, dan pastinya, lead yang berkualitas akan datang ke website Anda.

Seberapa besar peran dari taktik psikologi ikut bermain dalam social media marketing Anda?

Baca juga artikel menariknya mengenai psikologi marketing seperti :

Bila Anda memiliki kesulitan atau cerita menarik atau pengalaman dalam memaksimalkan social engagement Anda di social media, sampaikan saja ke Digitalmarkerter.id dan pembaca lainnya dengan mengisi kolom komentar di bawah ini.

Subscribe For Updates

Subscribe For Updates

Join our mailing list to receive the latest news and updates from our programs.

You have Successfully Subscribed!